Cekkabaronline.com, Bandung — Grup musik rock and roll asal Bandung, The Changcuters, baru saja berhadapan dengan meja hijau dalam ajang DCDC Pengadilan Musik Edisi 65 yang digelar di Yess Café, Bandung, pada Rabu (29/7/2026). Kendati harus menjalani proses persidangan yang penuh ketegangan sekaligus gelak tawa di hadapan para jaksa penuntut, Tria dan kawan-kawan pada akhirnya resmi dinyatakan bebas murni dari segala bentuk dakwaan.
Langkah hukum parodi yang unik ini diambil guna membedah secara mendalam perjalanan karier, konsistensi, hingga deretan rekam jejak luar biasa yang berhasil dicetak oleh band legendaris tersebut selama lebih dari 20 tahun berkiprah di panggung hiburan Tanah Air.
Bertabur Bintang dan Komedian Senior
Jalannya persidangan unik tersebut dipimpin langsung oleh komedian senior Denny Chandra yang bertindak sebagai hakim ketua, dengan didampingi oleh Yoga PHB yang menjabat sebagai panitera. Dua sosok seniman ternama, Pidi Baiq dan Budi Dalton, tampil garang di kursi jaksa penuntut umum untuk mencecar para personel The Changcuters.
Guna menghadapi deretan pertanyaan tajam tersebut, The Changcuters didampingi tim pembela tangguh yang terdiri dari vokalis Alone At Last, Yash Budaya, serta komika Kamaludin Arisatu alias Kamal Ocon. Kehadiran ratusan pendukung setia yang tergabung dalam komunitas Coklat Friends juga turut memadati lokasi untuk memberikan dukungan moral secara langsung.
Alasan Utama Penyeretan ke Meja Hijau
Perwakilan dari pihak DCDC, Agus Danny Hartono, mengungkapkan alasan utama di balik keputusan pihaknya menyeret grup pelantun tembang “Hijrah ke London” tersebut ke atas panggung Pengadilan Musik. Menurut Danny, keteguhan sikap The Changcuters dalam merawat karakter visual, gaya pakaian yang seragam, serta mempertahankan irama garage rock sejak awal kemunculan menjadi daya tarik mendalam yang sangat layak untuk ditelaah.
“The Changcuters adalah contoh bahwa sebuah band bisa terus berkembang tanpa harus meninggalkan jati dirinya. Itu yang membuat perjalanan mereka menarik untuk dikaji di Pengadilan Musik. Tahun ini mereka juga menorehkan pencapaian penting dengan membawa karya mereka tampil di tiga kota di Inggris, sekaligus merilis album WOW MA. Dua momentum tersebut menunjukkan bahwa perjalanan The Changcuters masih terus berjalan dan selalu punya cerita baru untuk dibagikan kepada penikmat musik,” terang Danny.
Menjadikan Khayalan “Hijrah ke London” Kenyataan
Persidangan berlanjut dengan membahas salah satu pencapaian paling monumental bagi grup musik yang dibentuk sejak tahun 2004 ini. Impian yang sempat tertuang dalam lirik lagu fiksi “Hijrah ke London” pada album debut mereka tahun 2006 silam, kini berhasil berubah menjadi kenyataan manis.
Tepat pada perayaan dua dekade usia band pada April 2026 lalu, lima pria asal Bandung ini sukses merampungkan rangkaian tur konser bergengsi mereka di tiga kota besar Britania Raya, yaitu Newcastle, Edinburgh, dan London.

Rahasia di Balik Penamaan Band
Di tengah suasana ruang sidang yang cair, sang vokalis, Tria, memanfaatkan kesempatan tersebut untuk meluruskan persepsi masyarakat luas mengenai asal-usul nama grup musik mereka.
”Nama The Changcuters bukan terinspirasi dari arti katanya. Tapi karena ada sebuah momen yang sangat monumental buat kami. Momen itu membekas sampai sekarang dan menjadi pengingat bagi kami berlima,” ujar Tria, sang vokalis.
Etos Kerja Keras di Balik Musik Rock
Tidak hanya membahas nama band, persidangan juga menguliti alasan filosofis di balik pemilihan aluran garage rock yang konsisten mereka usung. Tria menjelaskan bahwa inspirasi awal mereka memang datang dari gelombang musik dunia pada era awal 2000-an. Namun, hal utama yang paling memengaruhi mereka adalah semangat kerja dan keseriusan para musisi pendahulu dalam mengolah karya artistik.
”Saya meyakini bahwa siapapun band besar yang beraliran rock, di belakangnya mereka sangat serius, kita bisa lihat dari band besar dan legendaris The Beatles. Rock and roll yang manggung dengan image ugal-ugalan itu ya cuma penampilannya saja. Di belakangnya, sebenarnya ada banyak kerja keras dan kreativitas. Itu juga yang jadi salah satu benteng atau pondasi kami selama ini,” tegas Tria.
Peluncuran Album WOW MA dan Makna Slogan Internal
Momen persidangan makin hangat saat membahas album studio terbaru karya The Changcuters bertajuk WOW MA yang resmi diluncurkan pada 17 Juni 2026. Penamaan unik tersebut rupanya berawal dari seruan khas rekan-rekan indekos dari sang pembas, Dipa, saat menggambarkan rasa kagum. Diksi tersebut perlahan berubah menjadi seruan penyemangat rutin sebelum mereka melangkah ke atas panggung.
“Jadi setiap kali manggung seruan WOW MA ini juga kami tularkan kepada para fans, Changcut Rangers dan juga menjadi diksi internal yang kerap kami pakai. Kami menyadari WOW MA ini merepresentasikan karakter serta semangat berkarya The Changcuters sehingga dipilih menjadi nama album baru kami,” jelas Erick dan Tria.
Putusan Akhir: Bebas Murni Tanpa Syarat
Setelah menyimak seluruh pembuktian karya serta argumentsi yang dipaparkan, pihak panitera menilai bahwa keberadaan The Changcuters selama lebih dari dua dekade telah memberikan sumbangsih besar dan warna yang amat kaya bagi perjalanan industri musik nasional.
”Tidak dipungkiri semua karya musik The Changcuters berhasil membuat industri musik Indonesia menjadi lebih berwarna. Mereka berhasil menyajikan identitas yang otentik mulai dari lagu-lagu, kostum hingga aksi panggung. Album terbaru WOW MA menjadi jawaban bahwa energi mereka masih belum habis. Lebih dari dua dekade bukanlah waktu yang singkat, dan hingga hari ini The Changcuters masih bertahan serta terus berkarya,” kata Yoga.
Mendengar konklusi dari panitera, Hakim Ketua Denny Chandra tanpa ragu mengetukkan palu sidang dan secara resmi membacakan amar putusan akhir bagi kelima terdakwa.
”Demikian hasil Pengadilan Musik DCDC yang mengadili dan memeriksa perkara nomor 1.65/DCDC/2026 dengan terdakwa The Changcuters dinyatakan bebas dari seluruh dakwaan,” pungkas Denny.





