Cekkabaronline.com, Jakarta — Industri perjudian layar lebar tanah air kembali bersiap menyambut angin segar dalam genre sinema historis. Rumah produksi Denny Siregar Production resmi mengumumkan babak baru perjalanan karyanya lewat proyek layar lebar ke-6 yang diberi judul “EMMY”.
Sukses memikat perhatian publik hingga menembus angka lebih dari 2,45 juta penonton lewat karya fenomenalnya, Sayap Sayap Patah, rumah produksi ini terus mengukuhkan posisinya sebagai kreator sinema berlatar peristiwa penting bangsa.
Jejak langkah Denny Siregar Production selama ini memang begitu lekat dengan rekam jejak pembuatan film berbasis sejarah, rekaan kejadian nyata, alur cerita berbobot, aksi intens, hingga slow pacing yang mendalam. Karakteristik visual dan penceritaan tersebut telah terpatri kuat dalam deretan karya terdahulu mereka, seperti Kupu Kupu Kertas serta Tanah Runtuh, yang memperlihatkan komitmen tanpa kompromi terhadap realitas sejarah dan drama kemanusiaan.
Namun, menginjak tahun 2026, sebuah gebrakan dan transformasi penceritaan (storytelling) baru mulai dihadirkan. Tanpa mengikis sedikit pun komitmen dalam merawat ingatan sejarah bangsa, rumah produksi ini memilih pendekatan yang jauh lebih inklusif, emosional, dan dapat dirasakan secara dekat (relatable) oleh berbagai lapisan masyarakat.
Langkah inovatif ini lahir dari evaluasi terhadap respons serta kebutuhan penonton film nasional modern. Produser Denny Siregar menyampaikan bahwa proyek sinema “EMMY” ini mencerminkan fase kedewasaan bagi rumah produksi yang dipimpinnya.

“Kami mendengarkan dinamika dan keinginan penonton. Jika sebelumnya kami banyak berfokus pada dinamika konflik, bobot politik-sejarah yang kompleks, dan aksi yang padat, lewat film EMMY kami ingin memberikan ruang yang lebih besar pada porsi romance, empati, dan sisi kemanusiaan,” ujar Denny Siregar, Produser Denny Siregar Production.
Ia menegaskan bahwa sejarah perjuangan bangsa Indonesia pada hakikatnya dibentuk oleh beragam dimensi kehidupan para pejuang yang tidak terbatas pada pertempuran fisik semata.
“Sejarah tidak hanya dibangun oleh bentrokan dan peperangan, tetapi juga oleh cinta, pengorbanan, dan pilihan-pilihan personal yang menyentuh hati,” tambah Denny Siregar.
Secara naratif, film “EMMY” mengangkat lembaran kisah nyata sosok pahlawan nasional perempuan asal Sulawesi Selatan, Emmy Saelan. Dalam sejarah pergerakan kemerdekaan, figur pejuang yang lahir pada 15 Oktober 1924 ini dikenal gigih bertugas di garis depan pertempuran sekaligus mengemban amanah sebagai perawat medis palang merah.
Penggarapan film ini dipercayakan kepada sutradara Emil Heraldi dengan racikan naskah skenario yang ditulis oleh Evelyn Afnilia. Karakter utama Emmy Saelan bakal dihidupkan oleh aktris Cut Beby Tsabina, yang beradu peran dengan Samo Rafael sebagai karakter Bote. Sederet jajaran aktor pendukung turut memperkuat jajaran pemeran, di antaranya Aji Santosa, Moh. Iqbal Sulaiman, hingga Vincent Verhaag.
Kehadiran unsur romansa yang dipadukan dengan eksplorasi narasi humanis menempatkan “EMMY” sebagai penanda era baru Denny Siregar Production. Rumah produksi ini berupaya mempertahankan ketangguhan narasi sejarahnya, sembari menyampaikan pesan luhur perjuangan dan pengorbanan cinta secara lebih hangat ke hadapan penonton.
Rangkaian proses produksi film berlatar sejarah perjuangan ini diproyeksikan segera bergulir, dengan jadwal penayangan serentak di seluruh jaringan bioskop Indonesia pada tahun 2027 mendatang.




