9.4 C
New York
Selasa, April 28, 2026
spot_imgspot_img
spot_img

Terlalu Mendalami Peran, Givina dan Ratu Sofya Terlibat Aksi Tampar Sungguhan di Set ‘The Bell’

Cekkabaronline.com, Jakarta – ​Proses syuting film horor seringkali menyisakan cerita unik di balik layar, tak terkecuali dalam produksi film The Bell: Panggilan untuk Mati.

Dua aktris muda, Givina dan Ratu Sofya, mengalami kejadian tak terduga saat melakoni sebuah adegan perkelahian. Apa yang awalnya direncanakan sebagai akting biasa, justru berakhir dengan aksi baku hantam sungguhan akibat terbawa suasana emosional yang tinggi.

​Givina, yang memerankan karakter Saidah, menceritakan bahwa momen tersebut menjadi salah satu pengalaman yang paling berkesan baginya. Meskipun sebelumnya mereka sudah membuat kesepakatan mengenai koreografi perkelahian, namun intensitas emosi di depan kamera membuat kontrol diri mereka sedikit goyah. Hal ini menunjukkan betapa dalamnya mereka menyelami karakter masing-masing.

​”Scene tabok tabokan. Karena itu membekas buat saya. Kalo ada baku hantam tipis tipis sama Saidah dan Airin, di lokasi kita udah janjian sebenernya. Ternyata kita kayaknya terlalu mendalami, thats way ketika ditampar sama Airin, kita kaget. Akhirnya oke tampar balik,” ucap Givina saat ditemui di Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (27/4/2026).

​Insiden tamparan tersebut sempat memicu ketegangan sesaat di lokasi syuting karena dilakukan dengan tenaga penuh. Namun, profesionalisme tetap menjadi prioritas utama bagi kedua aktris tersebut. Begitu sutradara Jay Sukmo meneriakkan kata ‘cut’, Givina dan Ratu Sofya langsung saling meminta maaf dan menyadari bahwa hal itu terjadi demi kualitas adegan.

​Ratu Sofya yang memerankan tokoh Airin pun mengakui adanya kedekatan personal antara kepribadian aslinya dengan karakter yang ia mainkan. Karakter Airin digambarkan sebagai sosok yang keras kepala dan tangguh karena tekanan hidup yang dialaminya. Hal ini diakui Ratu sebagai cerminan dari beberapa sisi dalam dirinya sendiri di dunia nyata.

​”Melihat karakter Airin agak ada persamaan dengan saya. Karena ratu Sofia sok keras, tapi aslinya gak. Cuma karena tekanan, pengalaman hidup, ya ada kesamaan juga. Airin kan lumayan berisik nggak bisa diem,” tutur Ratu Sofya memaparkan karakternya.

​Ketegangan antar karakter dalam film ini bermula ketika sebuah lonceng keramat di Belitung dicuri oleh sekelompok pemuda pencari konten. Pencurian tersebut membangkitkan teror Penebok, hantu tanpa kepala yang haus akan nyawa. Givina dan Ratu Sofya menjadi bagian dari kelompok yang harus berjuang bertahan hidup di tengah ancaman mistis yang mencekam.

​Sutradara Jay Sukmo mengapresiasi totalitas yang ditunjukkan oleh para pemerannya. Ia berharap dinamika emosional yang terjadi di lokasi syuting dapat tersampaikan dengan baik kepada penonton. Fokus utama dari film ini bukan hanya pada rasa takut, tetapi juga pada bagaimana setiap karakter bereaksi terhadap situasi ekstrem yang mereka hadapi.

​Film ini juga diperkuat oleh kehadiran Shaloom Razade sebagai Isabella dan Bhisma Mulia sebagai Danto. Kolaborasi apik antara aktor muda dan senior diharapkan mampu memberikan atmosfer horor yang berangkat dari kepercayaan masyarakat setempat secara nyata. Keaslian cerita ini pula yang akan dibawa ke Cannes Film Market sebagai representasi horor berkualitas dari Indonesia.

​Bagi penonton yang penasaran dengan aksi baku hantam penuh emosi antara Saidah dan Airin, film The Bell: Panggilan untuk Mati siap tayang pada 7 Mei 2026. Sinopsis film ini menjanjikan kengerian di setiap dentingan lonceng yang menjadi pertanda maut. Pastikan Anda menjadi bagian dari saksi bangkitnya legenda hantu Penebok di bioskop kesayangan Anda.

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

100PengikutMengikuti
14,300PengikutMengikuti
44,000PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles