Cekkabaronline.com, Jakarta – Situasi yang melibatkan komika Pandji Pragiwaksono dengan Tongkonan Adat Sang Torayan (TAST) memasuki babak baru setelah muncul informasi mengenai sanksi adat terhadap dirinya. Polemik ini berawal dari cuplikan materi komedi lawas yang kembali beredar dan dinilai menyinggung masyarakat Toraja. Peristiwa tersebut mendorong lembaga adat TAST menjatuhkan sanksi berupa permintaan pembayaran puluhan hewan kurban dan denda bernilai miliaran rupiah.
Di tengah berkembangnya informasi tersebut, Pandji menjelaskan bahwa sejak awal ia telah menjalin komunikasi dengan berbagai pihak, terutama dengan Sekjen Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), Rukka Sombolinggi. Ia menegaskan bahwa langkah ini dilakukan untuk memastikan pemahaman yang benar terkait mekanisme penyelesaian adat yang berlaku dalam masyarakat Toraja.
“Dan kalau menurut Ibu Rukka dan banyak sekali teman-teman Toraja, sebenarnya masyarakat Toraja tuh tidak memberi hukuman,” tutur Pandji.
Pandji menyampaikan bahwa ia tetap membuka ruang untuk memberikan bentuk penghormatan kepada masyarakat adat Toraja. Menurutnya, pemberian tersebut bukan sebagai bentuk sanksi, melainkan sebagai upaya menjaga keharmonisan dan menunjukkan itikad baik setelah polemik mencuat kembali di ruang publik.
“Bahwa nanti mungkin ada sumbangan yang diberikan, itu kayaknya lebih kepada inisiatif baik yang saya ingin berikan untuk simbolisasi bahwa saya ingin hubungan ini berjalan dengan baik,” ujar Pandji.

Lebih jauh, Pandji menegaskan bahwa urusan yang berkaitan dengan mekanisme adat telah ia percayakan sepenuhnya kepada Rukka Sombolinggi. Ia menilai pihak yang memahami adat Toraja secara mendalam lebih layak menjadi jembatan dialog dalam penyelesaian polemik yang terjadi.
“Jadi, eh ya saya untuk urusan masyarakat eh untuk urusan adat masyarakat Toraja, saya sih percayakan kepada Ibu Rukka Sombolinggi dari AMAN,” tambahnya.
Pandji juga meluruskan kabar mengenai sanksi berupa 48 ekor kerbau, 48 ekor babi, dan denda Rp2 miliar. Ia menuturkan bahwa berdasarkan informasi yang diterimanya, kabar tersebut tidak tepat. Ia menegaskan bahwa pernyataan yang beredar seolah-olah sudah final justru tidak sesuai dengan penjelasan dari pihak yang memahami adat Toraja secara langsung.
“Bukan hanya belum final, kalau menurut Ibu Rukka Sombolinggi dan ini bisa dicek aja ke Ibu Rukka Sombolinggi, tidak akurat. Bukan belum final, tidak akurat,” tandasnya.
Di sisi lain, polemik ini muncul setelah potongan materi komedi Pandji dalam tur Mesakke Bangsaku tahun 2013 kembali viral di media sosial. Potongan tersebut dianggap merendahkan dan melecehkan budaya Toraja, sehingga memicu reaksi keras dari berbagai pihak. Pandji menyadari kekeliruan tersebut dan langsung menyampaikan permohonan maaf secara terbuka melalui akun Instagram pribadinya.
Dalam klarifikasinya, Pandji mengakui bahwa lelucon lama itu dibuat tanpa pemahaman yang cukup mendalam tentang kearifan budaya Toraja. Ia menyebut bahwa materi tersebut lahir dari ketidaktahuan, sehingga penting baginya untuk meluruskan sekaligus bertanggung jawab atas dampaknya saat ini.





