Cekkabaronline.com, Jakarta – Trio soul asal Surabaya, Thee Marloes, kembali menyuguhkan karya segar lewat single terbaru berjudul “Harap dan Ragu”. Lagu ini resmi dirilis pada Senin (17/11) melalui Big Crown Records, label rekaman berbasis Brooklyn, Amerika Serikat. Perilisan ini menandai langkah baru band yang terus konsisten memperkuat karakter musik soul modern dengan sentuhan retro.
Single tersebut menjadi lanjutan dari deretan karya yang telah mereka keluarkan sepanjang 2025. Sebelumnya, Thee Marloes merilis “I’d Be Lost” pada Juli dan “What’s On Your Mind” pada September. Keduanya kini menjadi bagian dari perjalanan menuju album penuh kedua mereka yang dijadwalkan hadir pada 2026.
Dalam “Harap dan Ragu”, Thee Marloes memilih menggunakan lirik berbahasa Indonesia. Melalui pendekatan ini, mereka ingin menyuarakan keresahan universal tentang waktu yang terus bergerak maju dan ketidakpastian yang menyertainya. Tema tersebut diolah menjadi refleksi musikal yang dekat dengan pengalaman banyak orang.
Sinatrya Dharaka, gitaris Thee Marloes, menjelaskan makna lagu ini sebagai potret perjalanan usia yang tidak bisa dihentikan. “Lagu ‘Harap dan Ragu’ bercerita tentang bagaimana kita tidak bisa memilih untuk terus bertambah usia, tapi waktu seolah selalu berlari mendahului. Hari ini mungkin kita masih bisa menyapa seseorang, tapi belum tentu besok. Bisa jadi kita yang pergi lebih dulu, bisa juga orang terdekat kita.”
Menurut Sinatrya, ada pula dimensi lain yang dibahas dalam single ini, yaitu perubahan cara memandang mimpi dan ambisi. Ia menyampaikan bahwa banyak orang mengalami fase ketika cita-cita besar yang dulu tampak mungkin perlahan terasa menjauh.
“Dulu banyak keinginan, cita-cita, dan mimpi yang terasa begitu besar. Tapi seiring berjalannya waktu, mulai muncul rasa ragu; apakah semua harapan itu akan berarti jika esok kita sudah tak ada?,” katanya.

Selain menyuguhkan pesan yang kontemplatif, proses kreatif pembuatan lagu ini ternyata berlangsung cepat dan spontan. Thee Marloes, yang beranggotakan Sinatrya Dharaka, Natassya Sianturi, dan Tommy Satwick, mengembangkan ide dasar lagu secara organik di studio. Mereka menggambarkan prosesnya sebagai momen kreatif yang mengalir alami tanpa banyak revisi.
Sinatrya mengisahkan bagaimana riff sitar menjadi kunci awal yang menghidupkan lagu ini. “Prosesnya sangat cepat. Saya menemukan riff sitar di studio, lalu kami menyusun struktur lagu bersama Tommy, Rhesa, dan Sandy. Keesokan harinya, Natassya langsung menulis lirik dan merekam vokalnya. Semuanya terasa mengalir saja.”
Kehadiran Natassya dengan karakter vokalnya yang lembut menambah kedalaman emosional pada “Harap dan Ragu”. Sementara itu, permainan drum Tommy Satwick tetap memegang peran penting dalam menegaskan warna soul khas Thee Marloes. Kesederhanaan aransemennya justru membuat pesan lagu menjadi lebih kuat dan intim.
Perilisan single ini semakin memperkuat posisi Thee Marloes sebagai band Indonesia yang memiliki pengaruh global. Kolaborasi mereka dengan Big Crown Records membuka jalan lebih luas untuk menampilkan musik Indonesia di level internasional tanpa meninggalkan identitas lokal. Pilihan mereka untuk merilis single berbahasa Indonesia pun menjadi langkah berani yang diapresiasi publik.
Lewat “Harap dan Ragu”, Thee Marloes tidak hanya merilis lagu baru, tetapi juga mengajak pendengar untuk berhenti sejenak, merenung, dan meresapi perjalanan hidup yang penuh kemungkinan. Single ini menjadi pengingat bahwa di balik keraguan selalu ada harapan yang tumbuh dalam tiap langkah.





