18.4 C
New York
Selasa, September 22, 2026
spot_imgspot_img
spot_img

Bikin Tsania Marwa Bangga, Ghina Raihanah Rilis Buku Becoming Without Arrival di Usia 25 Tahun

Cekkabaronline.com, Jakarta – Top 6 Puteri Indonesia 2024 sekaligus pembuat konten digital, Ghina Raihanah Tadjoedin, resmi menandai pencapaian baru dalam kariernya. Bertepatan dengan momen perayaan usianya yang menginjak kuarter abad, ia meluncurkan karya tulis perdana yang berfokus pada pengembangan diri (self-development).

Perayaan berharga tersebut dikemas lewat agenda peluncuran buku yang diberi judul Becoming Without Arrival. Acara berkonsep hangat itu mengambil tempat di Museum Modern and Contemporary Art in Nusantara (MACAN), Jakarta Barat, pada Minggu (20/9/2026).

Melalui buku ini, lulusan ilmu hukum tersebut merangkum berbagai perenungan atas perjalanan hidupnya sejak masa kanak-kanak hingga genap berusia 25 tahun. Ghina menyusun narasi dalam tiap bab tanpa nada mengajari, melainkan mengajak pembaca meresapi analogi kehidupan secara luwes.

Secara khusus, wanita yang lahir pada 19 September 2001 ini mengeksplorasi elemen alam dan lautan sebagai representasi dinamika diri manusia. Metafora filosofis ini dipilih untuk memudahkan publik menyadari betapa pentingnya menikmati setiap siklus proses pendewasaan.

“Bagaimana memaknai perasaan sampai akhirnya mengerti kalau proses itu harus sama-sama dihargai. Kita tidak perlu menunggu sampai di titik tertentu untuk baru akhirnya percaya diri dan nyaman sama diri sendiri,” katanya saat ditemui setelah acara.

Sentuhan Seni Lautan dan Proses Kreatif di Bawah Air

Daya pikat buku Becoming Without Arrival makin kuat berkat sajian artistik yang dihadirkan di dalamnya. Terbitan ini diperkaya dengan hamparan ilustrasi bertema kedalaman samudra hasil karya para kontributor, plus lembaran khusus interaktif bagi pembaca untuk menuangkan jurnal pribadi.

Merampungkan karya ini memberi tantangan tersendiri bagi Ghina yang terbiasa dengan gaya penulisan akademis yang baku. Ia dipaksa keluar dari zona nyaman akademis demi menyalurkan ekspresi emosional yang lebih lepas dan imajinatif.

Aktivitas menyelam (diving) lantas menjadi ruang perenungan utama bagi Ghina dalam menghimpun gagasan tulisan. Keheningan di dalam air memberinya kedamaian berpikir hingga sanggup menuntaskan manuskrip bukunya.

“Kesulitannya berbeda karena harus lebih kreatif. Aku menyelesaikan buku meini saat diving trip karena aku suka nyelam. Kalau hukum biasanya baca jurnal, kalau ini memang butuh ketenangan,” tuturnya.

Ajakan Menerima Diri dan Apresiasi Tsania Marwa

Secara mendasar, hadirnya buku ini menyuarakan pesan penting agar pembaca berhenti menyandingkan pencapaian pribadinya dengan tolok ukur orang lain. Ghina ingin mendorong setiap orang untuk belajar mengasihi keberadaan diri mereka di fase mana pun saat ini.

“Kita terbiasa menghargai diri kalau sudah sukses atau kaya, tapi lupa menerima diri saat masih berproses. Padahal proses itu sama pentingnya,” tuturnya.

Kehadiran aktris Tsania Marwa dalam acara peluncuran tersebut kian menambah suasana haru dan hangat. Ia memberikan dukungan moral sekaligus sanjungan atas semangat serta konsistensi Ghina yang dinilainya terus membesar sejak masa sekolah.

“Ghina adalah sosok adik yang justru mengajarkan banyak hal. Fun fact-nya, dulu waktu sekolah dia malah minta saya yang menuliskan tugas puisinya. Seiring berjalannya waktu, ambisi dan konsistensinya yang bikin Ghina bisa jadi seperti sekarang. We are so proud of you. Apa pun yang Ghina lakukan, itu semua jadi untaian seni yang akhirnya mewujud buku ini,” tandasnya.

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

100PengikutMengikuti
14,300PengikutMengikuti
44,000PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles