Cekkabaronline.com, Jakarta – Aktor muda berbakat, Rayhan Cornelis Van den Noort, baru-baru ini memulai babak baru dalam perjalanan hidupnya di Belanda. Pemain film Bayi Ajaib ini memutuskan untuk meninggalkan sejenak hingar-bingar dunia hiburan Indonesia demi mengejar pendidikan di sistem internasional.
Kepindahannya ini membawa tantangan tersendiri, terutama dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan yang sangat berbeda dari tanah air. Sejak hari pertama menginjakkan kaki di Negeri Kincir Angin, suhu udara yang ekstrem dan perbedaan budaya menjadi ujian awal bagi remaja ini.
Tantangan fisik menjadi hal pertama yang harus dihadapi Rayhan saat memulai adaptasi di sana. Perbedaan iklim yang mencolok antara cuaca tropis Indonesia dan dinginnya Belanda menuntut ketahanan fisik yang prima. Selain masalah cuaca, Rayhan juga harus mulai membiasakan diri dengan ritme kehidupan masyarakat lokal yang sangat terorganisir. Mengenai masa awal kepindahannya, ia mengakui adanya kesulitan saat harus menyatu dengan lingkungan yang benar-benar baru baginya.
“Pastinya suhu dan cuaca yang berbeda dengan Indonesia dan lingkungan yang berbeda juga,” ujar Rayhan ketika mengenang masa awal adaptasinya.
Dalam menjalani kesehariannya sebagai pelajar, Rayhan tidak melakukan perubahan kepribadian yang drastis, melainkan lebih fokus pada pengembangan kedisiplinan. Ia menyadari bahwa kunci sukses tinggal di luar negeri adalah kemampuan mengelola waktu dengan baik.

Di sekolah barunya, ia bergabung dengan institusi internasional yang mempertemukannya dengan siswa dari berbagai belahan dunia. Hal ini membuatnya harus menggunakan bahasa Inggris sebagai alat komunikasi utama setiap harinya.
“Rayhan hanya melakukan kegiatan seperti biasanya dan berusaha belajar dengan lebih disiplin terutama tentang waktu,” tutur pemuda kelahiran 9 Desember 2011 itu.
Perbedaan sistem pendidikan antara Indonesia dan Belanda juga dirasakan sangat kontras oleh Rayhan. Di Belanda, ia merasakan pola pengajaran yang jauh lebih mandiri dan berfokus pada pengembangan kemampuan berpikir kritis siswa sejak dini. Ia mencatat bahwa siswa di sana diarahkan untuk menentukan minat atau penjurusan lebih awal dibandingkan sistem di Indonesia.
Baginya, metode ini memberikan ruang eksplorasi yang lebih luas bagi setiap individu untuk berkembang sesuai potensinya.
“Belanda lebih berpusat kepada siswa, fokus pada berpikir kritis, kemandirian, disiplin tentang waktu dan fokus penjurusan dini. Sedangkan di Indonesia lebih terpusat pada guru, cenderung menghafal,” ungkap Rayhan.
Terkait proses belajar di kelas, Rayhan melewati fase transisi bahasa yang cukup menantang. Pada awalnya, pihak sekolah masih memberikan toleransi dengan menggunakan bahasa pengantar ganda guna membantu siswa asing. Namun, seiring dengan peningkatan level akademik dan kompetensi bahasanya, intensitas penggunaan bahasa lokal pun semakin meningkat.
Hal ini memaksa Rayhan untuk terus memacu kemampuan bahasanya agar tidak tertinggal dalam menyerap materi pelajaran yang diberikan oleh para guru.

“Pada awalnya guru menggunakan dua bahasa untuk mengajar yaitu bahasa Inggris dan bahasa Belanda. Semakin bertambahnya pengetahuan dan tes mengikuti level pelajar, guru pun menggunakan bahasa Belanda saja,” paparnya.
Meski berada jauh dari rumah, kehidupan sosial Rayhan di sekolah tergolong cukup menyenangkan karena ia berhasil menemukan lingkaran pertemanan yang suportif. Ia merasa beruntung bisa bertemu dengan teman yang memiliki latar belakang serupa dari Asia, yang membuatnya merasa lebih nyaman di lingkungan multikultural tersebut.
Di waktu senggang, ia tetap aktif berolahraga seperti bermain sepak bola dan berenang saat musim panas untuk menjaga kebugaran serta menjalin relasi sosial.
“Iya, kebetulan Rayhan juga punya teman dekat yang sama dari Indonesia dan dari Thailand,” katanya mengenai lingkungan pertemanannya.
Tinggal di luar negeri secara otomatis mengubah cara pandang Rayhan terhadap keteraturan hidup. Ia merasa pola pikirnya kini jauh lebih terstruktur dibandingkan sebelumnya, terutama dalam hal perencanaan agenda harian. Kedisiplinan menjadi pelajaran hidup paling berharga yang ia dapatkan, mengingat ia dituntut untuk mandiri tanpa pengawasan penuh dari orang tua. Pengalaman ini membentuknya menjadi pribadi yang lebih dewasa dalam menghadapi setiap situasi di lingkungan asing.
“Pastinya berbeda dari cara bersosialisasi dan cara berpikir. Terutama kedisiplinan tentang waktu dan keteraturan pola pikir juga kegiatan yang semuanya harus sudah dijadwalkan dengan agenda yang terorganisir,” ujar bintang sinetron Bayi Ajaib yang masih tayang di Netflix.
Meski sudah mulai terbiasa dengan gaya hidup Eropa, kerinduan terhadap Indonesia tetap tidak bisa disembunyikan. Rayhan mengaku sangat merindu masakan khas Indonesia dan suasana hangat tanah kelahiran. Ia bahkan sudah memiliki rencana sederhana namun bermakna saat nanti kembali ke tanah air, yakni berkumpul kembali dengan sahabat lamanya di lingkungan rumahnya di Depok sambil menikmati kuliner kaki lima favoritnya.
“Nongkrong bareng sahabat makan soto mie Bogor sama siomay di lapangan bola dekat rumah di Depok, terus lanjut sholat bareng di musholla,” tuturnya.
Mengenai kelanjutan kariernya di dunia akting, Rayhan tidak menutup pintu sepenuhnya bagi industri hiburan yang telah membesarkan namanya. Ia tetap memantau perkembangan industri di Indonesia melalui media sosial dan bersedia kembali ke depan kamera jika ada kesempatan yang tepat. Baginya, pendidikan adalah prioritas saat ini, namun hasrat untuk berkarya dalam seni peran akan selalu ada jika ada proyek yang sesuai dengan kematangannya saat ini.
“Tentu saja. Bila sesuai dengan karakter yang pas,” katanya singkat.
Sebagai penutup, Rayhan menyampaikan rasa terima kasihnya kepada para pendukung yang tetap setia menantikan kehadirannya kembali. Ia berharap suatu saat nanti bisa kembali menyapa penggemar dengan kualitas karya yang lebih baik setelah menyelesaikan studinya. Untuk saat ini, Rayhan memilih fokus menjadi pribadi yang sukses di bidang pendidikan demi masa depan yang lebih cerah baik di Indonesia maupun di kancah internasional.
“Terima kasih buat semua fans aku yang masih setia dan semoga kalian semua happy dengan semua konten yang aku buat. Semoga aku bisa berkarya lagi nanti di masa yang akan datang dengan versi yang berbeda,” pungkasnya.





