​Cekkabaronline.com, ​Jakarta – Diva pop tanah air, Rossa, resmi mengambil langkah tegas terhadap oknum-oknum di jagat maya yang diduga melakukan pencemaran nama baik. Didampingi tim manajemen dan kuasa hukumnya, penyanyi yang akrab disapa Teh Oca ini mendatangi gedung Bareskrim Polri untuk memberikan keterangan resmi terkait laporan yang telah dilayangkan sebelumnya.
​Langkah hukum ini diambil setelah pihak manajemen mendeteksi adanya serangan di media sosial yang dianggap sudah melampaui batas kewajaran. Tidak sekadar komentar miring, kasus ini diduga melibatkan jaringan akun yang terorganisir. Kehadiran Rossa di markas besar kepolisian tersebut menjadi bukti nyata bahwa sang penyanyi tidak main-main dalam menjaga integritas dan nama baiknya di mata publik.
​Persoalan ini bermula dari temuan tim manajemen Rossa mengenai adanya motif ekonomi di balik penyebaran konten negatif tersebut. Bukan sekadar opini pribadi netizen, namun ada indikasi penggunaan akun-akun tertentu yang sengaja menjatuhkan reputasi Rossa demi meraup keuntungan finansial melalui sistem clickbait dan afiliasi penjualan.
​Rossa mengungkapkan bahwa dirinya merasa terganggu dengan praktik tidak sehat tersebut. Ia menyoroti bagaimana nama besarnya dimanfaatkan secara ilegal untuk mengarahkan pengguna media sosial ke tautan belanja pribadi milik oknum tersebut. Hal ini dianggap sebagai bentuk eksploitasi nama baik yang sangat merugikan secara profesional.
​”Mengganggu sih, mengganggu. Tapi maksudnya kalau buat aku mungkin bukan personal ya, karena orang kan kalau ngomongin orang lain itu udah biasa. Tapi manajemen saya tuh bilang bahwa ‘Kok ini malahan ada banyak buzzer, ada banyak clipper gitu yang kemudian diberikan link-link untuk afiliasi’. Jadi semacam clickbait. Tapi link-nya adalah untuk jualan mereka pribadi. Kan itu tidak sehat,” jelas Rossa di Bareskrim Polri, Jakarta, Jumat (17/4/2026).
​Lebih lanjut, pelantun lagu “Terlalu Cinta” ini menjelaskan bahwa kehadirannya di Bareskrim adalah bentuk dukungan terhadap langkah manajemen. Baginya, urusan ini telah diserahkan sepenuhnya kepada pihak yang berwenang dan tim hukum agar bisa diusut hingga tuntas demi kenyamanan bersama.
​”Hari ini sebetulnya mungkin lebih enakan manajemen saya yang bicara, karena saya di sini sebetulnya hanya memberi apa namanya… kayak persetujuan. Karena manajemen saya bermaksud untuk mengusut hal-hal yang memang akhirnya jadinya merugikan nama baik saya. Nanti saya di sini hanya memberikan keterangan,” ujar Rossa.
​Sementara itu, Natalia Rusli selaku kuasa hukum menegaskan bahwa aksi ini bukan sekadar luapan emosi atau rasa sakit hati personal. Pihaknya ingin menekankan bahwa ada batasan hukum dalam berekspresi di dunia digital. Langkah ini diharapkan menjadi edukasi bagi masyarakat agar lebih bijak dan bertanggung jawab saat mengoperasikan platform digital mereka.
​”Ini penting untuk tidak ada normalisasi atas penggunaan media sosial yang tidak bertanggung jawab. Jadi sekali lagi, ini bukan urusan personal, ini demi kepentingan masa depan bangsa. Bahwa siapapun boleh bebas berkarya tapi jangan melanggar hak-hak orang lain. Jadi sekali lagi, posisi Teh Oca dalam hal ini berharap bahwa dengan langkah yang kita lakukan ini, kita semua makin cerdas dalam bermedia sosial. Itu yang penting,” ungkapnya.
​Natalia juga menambahkan bahwa pihaknya sudah mencatat perkembangan positif dari beberapa pemilik akun. Banyak pihak yang mulai menyadari kesalahan mereka dan memilih untuk menarik kembali konten yang menyudutkan Rossa. Hal ini disambut baik oleh tim hukum sebagai bentuk iktikad baik dari masyarakat.
​”Kita sudah menerima puluhan akun yang sudah men-take down dan meminta maaf kepada manajemen Mbak Rossa. Dan Mbak Rossa menyambut baik iktikad baik itu. Dalam hal ini sekali lagi, saya selaku kuasa hukum dari manajemen Mbak Rossa, hanya ingin mengedukasi kepada masyarakat Indonesia, alangkah baiknya menggunakan media sosial itu dengan baik dan benar,” Natalia melanjutkan.
​Menutup keterangannya, Rossa berpesan agar publik bisa membedakan antara kebebasan berpendapat dan tindakan perundungan. Ia khawatir jika perilaku menjelekkan orang lain demi konten dianggap lumrah, maka generasi mendatang akan tumbuh dengan nilai-nilai yang salah dalam berkomunikasi di ruang publik.
​”Aku berpikir ‘Iya juga ya’. Anak aku pun nanti akan besar, anak-anak kita semua juga akan besar gitu. Jangan sampai hal seperti ini menjadi norma. Bahwa menjelekkan orang itu ya nggak apa-apa, ‘ini kan media sosial saya’. Tapi kan yang dipakai nama orang lain. Kalau kamu mau menjelekkan namamu sendiri silakan. Tapi ini kan nama orang lain,” tutur Rossa.
​”Artinya ada pembelajaran. Karena hidup nggak mungkin benar terus gitu ya. Kita bukannya anti kritik, tapi harus dibedakan mana kritik atau mana bully-an. Kritik tentunya harus diterima dengan baik, tapi kalau bully-an mari kita bilang ‘Tidak’ pada bully-an. Siapapun tidak berhak untuk di-bully,” pungkas Rossa.





