​​Cekkabaronline.com, Jakarta. – Dunia kuliner Indonesia, khususnya Bali, tengah diselimuti duka mendalam. Ni Ketut Ngasti, sosok perempuan tangguh yang menjadi cikal bakal lahirnya fenomena “Nasi Djenggo” atau yang kini populer dengan sebutan Nasi Jinggo, dikabarkan telah berpulang ke hadapan Sang Hyang Widhi pada usia 90 tahun. Kepergiannya tidak hanya meninggalkan kesedihan, tetapi juga kenangan akan warisan kuliner yang melegenda hingga ke seantero negeri.
​Kisah Ni Ketut Ngasti bermula pada era 1970-an di kawasan Pesanggaran, Denpasar. Di sana, ia meracik dan berjualan nasi bungkus dengan lauk sederhana namun memiliki cita rasa yang luar biasa lezat. Target pasarnya saat itu adalah para pekerja pelabuhan, sopir tangki Pertamina, hingga para pemancing di sekitar Pelabuhan Benoa yang mencari santapan praktis namun mengenyangkan di tengah aktivitas berat mereka.
​Nama “Men Djenggo” yang melekat pada dirinya ternyata memiliki sejarah unik yang berkaitan dengan kegemaran sang suami, Buddy Alexie Bloem. Buddy, seorang mantan tentara KNIL yang bergabung menjadi TNI sejak 1945, sangat menyukai film laga Amerika berjudul Django (1966). Film garapan sutradara Sergio Corbucci yang dibintangi Franco Nero tersebut begitu membekas di hati Buddy hingga memengaruhi cara ia membesarkan putranya.
​Buddy sering meninabobokan putranya, Henry Alexie Bloem, dengan senandung yang khas. Hal ini memicu panggilan akrab dari lingkungan sekitar kepada Henry kecil. Seiring berjalannya waktu, Henry lebih dikenal dengan panggilan Djenggo oleh para tetangga dan saudara di rumah tuanya yang terletak di kawasan Sesetan, Banjar Kaja.
​Sesuai dengan kebiasaan umum masyarakat di Bali, Ni Ketut Ngasti pun mulai dipanggil oleh orang-orang dengan sebutan Meme Djenggo atau Men Djenggo, yang secara harfiah berarti “Ibunya Djenggo”. Panggilan inilah yang kemudian menjadi merek dagang alami bagi nasi bungkus yang ia jajakan kepada para pekerja di pelabuhan. Sejak saat itu, istilah Nasi Djenggo mulai dikenal luas dan menjadi identitas kuliner khas Pulau Dewata.
​Warisan yang ditinggalkan oleh Ni Ketut Ngasti tidak berhenti pada sebungkus nasi. Beliau berhasil mendidik Djenggo kecil, Henry Alexie Bloem, menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh di dunia kuliner Indonesia. Henry menjelma menjadi chef profesional yang tidak hanya berprestasi di dalam negeri, tetapi juga di kancah internasional dengan membawa misi pelestarian kuliner Nusantara.
​Dalam catatan kariernya, Chef Bloem pernah dipercaya memimpin Indonesian Chef Association (ICA) selama dua periode. Dedikasinya terhadap standar tinggi dunia masak membawanya berkarier di sebuah restoran di Belanda yang konsisten mendapatkan ulasan Michelin Star. Pencapaian ini menjadi bukti bahwa didikan dari seorang ibu penjual nasi bungkus di pelabuhan mampu melahirkan talenta kelas dunia.
​Hingga masa tuanya, Men Djenggo tetap dikenal sebagai sosok yang bersahaja meski namanya secara tidak langsung melegenda lewat setiap bungkus Nasi Jinggo yang dijual di sudut-sudut jalanan Bali. Kini, di usianya yang hampir seabad, ia telah menyelesaikan tugasnya di dunia dan meninggalkan jejak yang tak akan terhapus dalam sejarah kebudayaan makan di Indonesia.
​Pihak keluarga dan kerabat memberikan penghormatan terakhir kepada sosok yang telah memberikan warna bagi kekayaan kuliner Bali ini. Meskipun raganya telah tiada, filosofi kerja keras dan kelezatan masakan Men Djenggo akan terus hidup melalui tangan Chef Bloem dan jutaan pedagang Nasi Jinggo yang meneruskan tradisi tersebut.
​”Selamat menuju keabadian Men Djenggo. Amor ring acintya,” tulis pesan duka yang mengiringi kepergiannya. Selamat jalan, sosok ibu yang dari tangan dinginnya, lahir dua legenda besar kuliner Indonesia yang telah mengharumkan nama bangsa.




