Cekkabaronline.com, Jakarta – Kesabaran Irish Bella dan sang suami kembali diuji saat berjuang mendapatkan momongan. Setelah sempat berupaya selama satu tahun serta melewati dua kali prosedur inseminasi yang belum berhasil, pasangan ini mantap memutuskan untuk beralih mengambil langkah In Vitro Fertilization (IVF) atau bayi tabung di Malaysia.
Langkah ini diambil dengan keyakinan penuh demi melengkapi kebahagiaan rumah tangga mereka. Namun, perjalanan menuju garis dua tidak pernah mudah dan membutuhkan stamina fisik serta mental yang kuat.
Tahapan medis dalam menyukseskan ikhtiar kehamilan memang sangat memengaruhi aspek fisiologis maupun psikologis seorang wanita. Irish mengakui bahwa masa-masa stimulasi hormon menjadi salah satu momen paling menantang yang harus dilaluinya.
“Rasanya campur aduk. Bukan hanya secara fisik karena sakit, tetapi secara emosi juga luar biasa. Saat stimulasi hormon, mood swing itu sangat terasa,” cerita Irish Bella dalam acara The Alhaya Fertility Journey 2026.
Keputusan Irish untuk terbang ke Negeri Jiran didasari oleh pencarian penanganan medis yang dipadukan dengan rasa nyaman. Berdasarkan data Malaysia Healthcare Travel Council (MHTC), Malaysia menjadi salah satu destinasi favorit dengan tingkat keberhasilan medis IVF berkisar antara 40% hingga 60%.
Di sana, ia menyerahkan penanganan medisnya kepada spesialis kesuburan, Dr. Wan Syahirah Binti Yang Mohsin atau yang akrab disapa Dr. Sera.
Proses penanganan medis yang panjang membuat Irish sangat mengandalkan keterbukaan dan dukungan emosional dari dokter yang merawatnya. Bagi aktris ternama ini, hubungan saling percaya antara dokter dan pasien merupakan pondasi utama selama masa perawatan.
“Menurut saya, kita harus cocok dengan dokternya. Dokternya harus support sama kita,” ujar Irish.
Perasaan gugup dan cemas mengenai hasil akhir menjadi bayang-bayang yang kerap menghampiri calon ibu. Ketidakpastian perjalanan medis ini dipahami Irish sebagai salah satu tekanan terberat yang harus ia kelola.
“Saya tidak suka hal-hal yang tidak pasti,” ungkapnya.
Memahami kecemasan tersebut, Dr. Sera memberikan pandangan rasional mengenai dinamika medis dalam perawatan kesuburan. Ia menegaskan bahwa pendampingan medis bertumpu pada kolaborasi yang erat tanpa memberikan janji manis yang tak realistis.
“Namanya IVF, hasilnya tetap tidak bisa 100 persen keberhasilan. Tetapi kami mencoba memberikan yang terbaik dengan teknologi terbaik dan kepakaran yang kami miliki. Dalam bayi tabung, dokter dan pasien adalah tim,” jelasnya.
Rasa nyaman dan empati yang dihadirkan oleh sang dokter memberikan ketenangan tersendiri bagi Irish di tengah pengobatan. Ia merasa diperhatikan secara menyeluruh sebagai seorang manusia, bukan sekadar pasien medis.
“Alhamdulillah, Tuhan mempertemukan saya dengan Dr. Sera. Dokter perempuan yang Masya Allah luar biasa, bukan hanya mendampingi secara medis tetapi juga secara emosional. Walaupun pasiennya banyak, saat bertemu pasien semuanya dilayani dengan sangat baik. Saya sangat merekomendasikan Dr. Sera,” kata Irish.
Sebagai informasi pendukung, riset medis menunjukkan bahwa peluang keberhasilan IVF sangat bervariasi, di mana wanita berusia di bawah 35 tahun memiliki tingkat keberhasilan hingga 40-50%, namun berangsur turun seiring bertambahnya usia. Oleh karena itu, faktor kesiapan mental dan manajemen stres yang disampaikan Irish menjadi kunci penting dalam mendukung keberhasilan prosedur medis ini.
Acara The Alhaya Fertility Journey 2026 menjadi wadah hangat yang menghubungkan para pejuang buah hati dengan tim medis ahli. Melalui pengalamannya, Irish berharap para pasangan yang sedang berjuang dapat menemukan dokter yang tepat serta mendapatkan dukungan emosional secara utuh.




