Cekkabaronline.com, Jakarta – Perayaan Bulan Kasih Sayang tahun 2026 ini mendapatkan warna yang berbeda bagi mereka yang sedang merayakan kehilangan. Di tengah gegap gempita makan malam romantis, penyanyi sekaligus penulis lagu Eileen Pandjaitan, yang akrab disapa Ei, justru merilis sebuah karya mendalam berjudul “Shooting Star”. Lagu ini hadir sebagai kawan bagi mereka yang masih menyimpan rindu di tengah perayaan Valentine yang biasanya identik dengan kemanisan.
Lagu “Shooting Star” merupakan sebuah pop ballad yang menangkap momen melankolis tentang seseorang yang belum selesai dengan masa lalunya. Narasi dalam lagu ini menggambarkan seorang perempuan yang setia mendatangi kafe penuh kenangan, berharap melihat tanda-tanda kehadiran orang yang dicintainya kembali. Ei berhasil mengemas perasaan halusinasi dan harapan tipis tersebut menjadi sebuah karya seni yang sangat intim dan menyentuh hati.
Ei mengungkapkan bahwa proses penciptaan lagu ini berasal dari kedalaman emosi yang sangat privat. Kepada media, ia menjelaskan makna di balik barisan liriknya yang jujur.
“Shooting Star itu semacam percakapan batin yang nggak pernah sempat tersampaikan,” ungkapnya.
Secara teknis, lagu ini digarap dengan sangat teliti untuk menjaga kemurnian emosinya. Vokal lembut Ei menjadi senjata utama dalam menyampaikan pesan tanpa perlu aransemen yang megah. Produksi musiknya sengaja dibuat bersih dan minimalis agar pendengar bisa merasakan atmosfer yang sunyi namun dalam, seolah-olah sedang berada di samping Ei saat ia bernyanyi.

Mengenai pendekatan produksinya, Ei menegaskan komitmennya pada kejujuran rasa dalam lagu tersebut.
“Tidak berlebihan, Tidak dramatis secara artifisial, Dan Hanya kejujuran,” tegas Ei.
Dalam pengerjaannya, Ei tidak sendirian. Ia berkolaborasi dengan Bowo Soulmate sebagai Vocal Director, serta didukung oleh duo produser Ankadiov dan Andreas Arianto. Sinergi ini melahirkan sebuah soundscape yang resonan, menjadikannya pilihan utama bagi mereka yang merasa Valentine bukan hanya milik pasangan bahagia, melainkan juga bagi mereka yang memilih mencintai tanpa harus memiliki.
Ei sendiri bukanlah sosok baru yang sembarangan di industri musik. Lahir pada 24 April 2003, Ei telah menunjukkan bakat luar biasa sejak usia belia dengan memulai karier profesional di umur 17 tahun. Namanya mulai diperhitungkan secara luas setelah berkolaborasi dengan vokalis Kahitna, Mario Ginanjar, dalam lagu “May, Halfway”.
Saat ini, Ei tengah menempuh pendidikan di salah satu institusi musik paling bergengsi di dunia, Berklee College of Music, Massachusetts, melalui jalur beasiswa. Di Amerika Serikat, ia aktif tampil di berbagai panggung bergengsi seperti House of Blues hingga Longy School of Music. Bagi Ei, musik adalah pelarian sekaligus ruang aman untuk mengekspresikan jati dirinya yang tertutup.
“Bisa dibilang aku tuh introvert, jadi musik itu jadi tempat paling aman buat cerita. Kalau aku duduk sama piano, biasanya semua rasa ya mengalir keluar sendiri,” tutur musisi muda ini.
Kehadiran “Shooting Star” di Valentine 2026 ini seolah menjadi pengingat bahwa cinta tidak selalu harus berakhir rapi untuk layak dirayakan. Lagu ini mengajak pendengar untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk media sosial dan mengakui perasaan yang masih ada. Di balik fenomena bintang jatuh, tersimpan doa-doa tentang kepulangan dan perdamaian dengan rasa sakit.





